Melawan Stigma Sepanjang Usia

  • Bagikan

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Perlakuan diskriminatif masih kerap kali disematkan bagi eks penderita kusta. Melawan stigma negatif masih jadi perjuangan berat bagi Al Qadri dan pengurus Perhimpunan Mandiri Kusta (PerMaTa), khususnya di Makassar, Sulawesi Selatan.

Al Qadri merupakan satu dari ratusan eks penderita kusta yang tinggal di kompleks Penderita Kusta Jongaya, Kelurahan Balla Parang, Kecamatan Tamalate, Makassar. Penulis menemui Al Qadri di rumahnya, Selasa (25/1/2022).

Masa muda Al Qadri seolah tanpa harapan akibat serangan bakteri ini. Dia membuang diri ke Makassar, meninggalkan kampung halamannya di Kabupaten Wajo.

Kompleks ini berdiri sejak 1936. Inilah satu-satunya tempat yang menjadi penampungan para penderita lepra di Makassar. Saat mulai dirintis, tempat ini memiliki areal seluas 10 hektare. Lahan itu adalah wakaf seorang bangsawan Kerajaan Gowa bernama Karaeng Bontobiraeng.

Pemukiman itu kemudian dikelola oleh Yayasan Pemberantasan Penyakit Kusta. Bangunan yang didirikan adalah rumah sakit untuk merawat pasien. Selain itu, di lahan itu juga didirikan pemukiman untuk menampung penderita kusta.

Saat ini, dari 1.300 orang yang tinggal di kompleks itu, hanya ada sekitar 400 orang yang pernah mengalami kusta. Yang mengalami kerusakan organ hanya sekitar 100 orang lebih.

Al Qadri akhirnya mulai memilih menetap di Jongaya pada 1991, berkumpul dengan sesama penderita kusta. Dia menderita kusta saat berusia 6 tahun.

“Saya orang Bugis. Kalau ada keluarga yang kena penyakit kusta, misalkan perempuan, itu tidak ada yang mau lamar, begitu juga laki-laki tidak ada yang mau terima lamarannya,” kata Al Qadri.

Pada 1990, Al Qadri mendapatkan pengobatan di Rumah Sakit Dr. Tadjuddin Chalid yang merupakan rumah sakit rujukan regional Indonesia bagian timur untuk penyakit kusta.

“Saya cukup lama di sana dan setelah kondisi membaik saya pulang kampung mencoba berinteraksi dengan orang sekitar. Ternyata perlakuan diskriminasi itu masih sangat kental sehingga saya tidak bisa tinggal di kampung. Pandangan orang terhadap saya terlihat aneh,” kata dia.

Al Qadri memutuskan kembali ke Makassar dan mulai masuk ke kompleks Jongaya. Semula, dia kebingungan untuk mendapatkan pekerjaan sebab kondisi fisiknya yang tidak memungkinkan diterima oleh orang pada umumnya.

Tidak adanya pekerjaan jelas, memaksa dirinya menjadi juru parkir di beberapa tempat. Sebut saja di pelataran kantor BRI Parang Tambung, Rumah Makan di Jalan Andalas, dan paling lama di pelataran Klenteng Xian Ma di Jalan Sulawesi. Saat jadi jukir pun ia mengaku masih saja mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan dari sejumlah orang.

“Dari 1993 sudah mulai menjadi tukang parkir sampai tahun 2009,” imbuh dia.

Melakoni rutinitas sebaga juru parkir, bukan hal mudah bagi Al Qadri. Bukan hanya fisik, tapi siap mental.

“Saya sering mendapat perlakuan tidak enak. Orang-orang serasa tidak mau bersentuhan saat melihat tangan saya. Ketika membayar jasa parkir, uangnya dia buang karena tidak mau bersentuhan,” kenang dia.

Selain itu, kesulitan lainnya yang didapat yaitu akses pendidikan. Al Qadri mengaku merasakan duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) hanya dua bulan. Kala itu dirinya dikeluarkan dari sekolah karena ketahuan mengidap penyakit kusta sehingga pihak sekolah khawatir menular pada anak-anak lain.

“Kalau seusia saya itu pendidikannya masih sangat rendah karena waktu itu tahun 70-an stigma sangat tinggi dan sulit mengakses sekolah. Saya sendiri tidak pernah sekolah hanya dua bulan bangku sekolah dasar ketahun mengidap penyakit kusta dan dikeluarkan dari sekolah karena takut menular pada anak-anak lain,” ujarnya.

Stigma dan cibiran negatif juga dialami oleh anggota keluarga. Mereka kerap dijauhi oleh orang lain dengan alasan khawatir tertular. Padahal, kata Al Qadri, mereka tidak terinfeksi bakteri itu, namun tetap saja mendapat stigma dari orang-orang di luar kompleksnya.

“Anak-anak kami kalau mau naik angkutan kota, tidak mau naik di depan gerbang kompleks karena takut ketahun kalau dia dari keluarga penyakit kusta sehingga dia naik di gerbang lain. Itu dulu tapi setelah seiring pengetahuan masyarakat meningkat, sosialisasi aktif, perubahan itu sudah ada. Tapi stigma terhadap kami tetap saja ada,” kata dia.

Ayah dua anak ini menjelaskan, stigma penyakit kusta harusnya sudah tidak ada lagi sebab penyakit yang sebelumnya dianggap berbahaya ini sudah bisa disembuhkan. Bahkan dalam penularannya sendiri tidak sama dengan apa yang dipahami orang-orang selama ini.

Sebab dari hasil penelitian hanya sekitar lima persen orang yang bisa tertular penyakit kusta, dan tiga persen bisa sembuh sendiri dengan imun yang bagus juga dua persennya membutuhkan pengobatan.
Termasuk pembuktian lain bahwa penyakit ini tidak menular terlihat pada dua anaknya yang terlahir secara normal dan tidan mengidap penyakit kusta.

“Saya memiliki istri yang pernah mengalami penyakit kusta. Istri saya terpaksa kehilangan kaki kirinya karena penyakit itu. Tapi dua anak saya normal semua. Satu sudah selesai kuliah dan yang satunya lagi masih kuliah di Unhas Makassar. Semuanya normal. Makanya stigma itu harus dihilangkan,” terangnya.

Al Qadri sendiri saat ini fokus mengurus organisasi Perhimpunan Mandiri Kusta (PerMaTa). Ia dipercayakan sebagai Wakil Ketua Nasional PerMaTa.

“Saya masuk di organisasi sekitar tahun 2003. Sejak saat itu saya tinggalkan jadi jukir. Istri saya fokus jaga usaha, kebetulan ada toko kecil yang kami rintis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ucapnya.

Al Qadri punya harapan besar ke depan yakni tidak ada lagi perlakuan diskriminasi terhadap penderita penyakit kusta. Pemahaman masyarakat tetang kusta lebih ditingkatkan. Juga orang-orang yang menderita kusta tidak mendiskriminasikan dirinya sendiri karena khawatir akan penyakit dan stigma dari orang lain. (*)

  • Bagikan