Taklukkan Gedung Pencakar Langit Jakarta

  • Bagikan

MAKASSAR, BACAPESAN.COM –– Kelihaian lihai membersihkan kaca atau dinding bangunan tidaklah cukup untuk melakoni pekerjaan ini. Butuh tambahan nyali dan keberanian yang tinggi, karena nyawa bisa saja jadi taruhan. Buat Anda yang fobia dengan ketinggian, tidak disarankan menjalani profesi ini.

Muhammad Ruslan Zulkarnain rela meninggalkan bangku kuliah demi mengejar cita-citanya. Menjadi seorang pemanjat tebing hingga merancang usaha di bidang pembersih kaca gedung-gedung pencakar langit.

Cullank—begitu dia disapa oleh rekan-rekannya–dulunya merupakan mahasiswa Jurusan Ekonomi di Universitas Hasanuddin. Namun, kecintaannya terhadap zona ketinggian memaksanya untuk hengkang dari kampus merah di awal-awal tahun 2000-an.

Dia lalu menuju Kota Bandung, Jawa Barat dan bergabung ke Skygers, salah satu sekolah pnjat tebing di Bumi Pasundan. Dia lalu jadi atlet panjat tebing Sulawesi Selatan setelah dinyatakan lulus dari Skygers.

Tidak sekadar menyalurkan hobi panjat memanjat, tapi, Cullank menerawang ada masa depan di sana. Maraknya proyek pembangunan pencakar langit menjadi alasan dirinya fokus melatih diri, mental, dan pengetahuan.

Jasa membersihkan gedung bertingkat itu, nantinya, akan banyak dibutuhkan di berbagai kota besar. Hanya orang-orang yang profesional yang bisa melakukannnya. Dan, visi Cullank tidak meleset.

“Saya sudah melihat masa depan di dunia manjat sejak dari awal makanya saja ke Bandung untuk sekolah. Alasannya sederhana, orang membangun ke atas, artinya orang yang bisa mengerjakan itu yah harus orang profesional. Ditambah lagi pekerjaannya banyak, tapi orangnya sedikit. Itu yang memotivasi saya,” kata Cullank, Selasa (1/2/2022).

Berkat ketekunannya, ia berhasil mendirikan salah satu perusahaan sekaligus tempat pelatihan bagi yang ingin bergelut di dunia kerjaan pada ketinggian. Perusahaan itu diberi nama Celebesrope Training Center yang berlokasi di Bangkala, Kecamatan Manggala, Makassar.

“Dulu sempat stres mau kerja apa. Tapi perlahan saya melihat ternyata bekerja di ketinggian itu bisa dijadikan profesi dan akhirnya saya mencoba belajar di Batam. Di sana ada tempat belajar untuk bekerja di ketinggian namaya IRATA,” imbuh dia.

Selesai belajar, Cullank, kembali ke Makassar untuk dirikan perusahaan. Menurut dia, usaha yang dirintisnya untuk perusahaan industri telekomunikasi yang fokus di perawatan tower. Kini, dia telah merambah ke unit bisnis termasuk pembersihan atau perawatan gedung-gedung tinggi.

“Kami sudah berjalan selama enam tahun,” ujar Cullank.

Menurut dia, membersihkan kaca atau dinding gedung bertingkat tidak dilakukan asal-asalan. Butuh teknik dan metode serta peralatan khusus sehingga kotoran yang menempel hilang sampai ke sela-sela jendela.

Bekerja pada ketinggian di Indonesia belum begitu familier. Selain resikonya yang tinggi, pekerjaan ini juga harus dilakukan oleh orang-orang profesional dengan pengetahuan khusus sebab menggunakan alat bantu utama berupa tali.

Pekerjaan yang dikenal dengan sistem kerja akses tali (rope access) dalam dunia kerja industri pertama kali diterapkan di Amerika dan Eropa di akhir era tahun 70-an dan terus berkembang hingga sekarang ini.

Untuk di Indonesia sendiri, akses tali mulai berkembang sekitar tahun 2007-an hingga sekarang dengan mengacu pada Peraturan Menteri Nomor 09 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Dalam pekerjaan pada ketinggian mewajibkan pada setiap pekerja atau teknisi ketinggian memiliki sertifikat dan lisensi yang telah diakui oleh negara.

Cullank mengaku, pekerjaan ini masih terbilang belum dihargai oleh masyarakat. Utamanya para pemberi kerja seperti perusahaan. Padahal pekerjaan ini memiliki resiko yang begitu tinggi.

“Ini yang jadi persoalan di Indonesia, orang belum menghargai secara baik pekerja yang bekerja dengan resiko tinggi, seperti pekerjaan kami ini yang bekerja pada ketinggian,” ucap Cullank.

Para pekerja yang bekerja di ketinggian, seperti maintenance tower, membersihkan kaca atau mengecat gedung-gedung tinggi disebut harus memiliki sertifikat K3 TKPK dari Kemnaker RI.
Metode kerja yang bisa dikata modifikasi dari olahraga panjat tebing dan caving ini juga harus menggunakan teknik khusus yang disertai peralatan standar khusus.

Untuk alat, sejauh ini, kata Cullank, masih dibeli dari luar negeri sebab produksi lokal seperti tali dan alat lainnya belum tersertifikasi alias belum standar. Sebab untuk memenuhi standar safety dari UIAA (Union International des Alpinisme Associations) dan CEN (Comité Europeen de Normalisasi) membutuhkan biaya yang sangat mahal.

“Peralatan yang biasa saya pakai belum ada dibuat di Indonesia kita masih memakai standar Eropa dan Amerika. Semua peralatan dalam ketinggian itu diatur dalam standar Nasional. Alat lokal ada tapi belum tersertifikasi dan belum melewati uji tes (SNI),” ucapnya.

Sejak mendirikan perusahaan itu, kata Cullank, baru membersihkan beberapa bangunan di Makassar seperti Monumen Mandala di Jalan Jenderal Sudirman dan bangunan milik PT Pertamina yang berada di Pelabuhan Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM).

Kebanyakan ia mengerjakan bangunan-bangunan yang tinggi yang ada di Jakarta. Sebab kata Cullank untuk pemilik gedung-gedung tinggi di Makassar dalam kesepakatan biaya pengerjaanya belum ada yang cocok.

“Kalau gedung-gedung tinggi jarang karena mereka tidak punya biaya yang cukup untuk bisa mempekerjakan kami. Kami lebih banyak ke Jakarta untuk bangunan tinggi,” imbuh dia.

Di Jakarta, Cullank cs pernah membersihkan Menara Kompas, kantor Wali Kota Jakarta Selatan, IFC, dan panting di kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba.

Cullank mengatakan, dalam pandangannya para pemberi kerja khusunya di Makassar sendiri masih menilai pekerjaan ini sama dengan orang-orang yang bekerja pada umumnya. Seperti membersihkan kaca masih dinilai sama pada saat dilakukan di dalam gedung padahal kata dia dari segi keselamatannya saja sudah jauh berbeda.

Selain itu, alat tambahan lain seperti tali dan alat lainnya dibeli dengan harga yang mahal. Sehingga hitungannya juga harus berbeda. Belum lagi kata dia, orang yang melakukan itu harus memiliki sertifikat. Mulai dari pengawas atau yang dikenal dengan supervisor hingga ke level selanjutnya.

“Sekarang orang mau bayar sama dengan orang yang berdiri di lantai. Siapa yang mau kerja? Teknisi rope access saja itu dalam satu hari yang paling murah sekitar Rp400 ribu per orang, itu khusus gaji, belum termasuk jaminan makan minum,” terang Cullank.

Menurut dia, orang-orang yang bekerja di ketinggian seperti mengecat atau membersihkan kaca itu ada levelnya. Kalau teknisi level satu, yang bergelantungan. Lalu ada yang disebut supervisor itu level 2 dan gajinya lain, ada lagi level 3. Supervisor tugasnya melakukan rescue pada saat teknisi tiba-tiba mengalami kecelakaan dalam bekerja.

“Jadi hal seperti ini yang kadang tidak diketahui orang,” ujar dia.

Penerapan standar operasional prosedur (SOP) dalam bekerja di ketinggian juga disebut memiliki banyak manfaat. Salah satunya adalah meminimalisir adanya resiko terjatuh. Untuk di Indonesia sejak dari tahun 2008 hingga tahun 2021 hanya ada tiga kejadian. Itupun, kata Cullank, dikarenakan pekerjanya tidak memiliki sertifikasi dalam bidang pekerjaan di ketinggian.

“Jadi perusahaan itu cari murah. Kalau dia memberikan pekerjaan itu pada perusahaan yang secara prosedur sudah standar pemilik gedung atau perusahaan aman, tidak perlu memikirkan orang yang bekerja,” paparnya.

Ke depan Cullank berharap pekerjaan ini tidak dipandang sebelah mata, utamanya pada para pemberi kerja sebab memiliki resiko yang besar juga biaya yang sangat besar khususnya pada peralatan.

“Pihak pemberi kerja, para teknisi, para perusahaan pemberi jasa bisa saling berkolaborasi secara baik sehingga bentuk pekerjaan di ketinggian bisa dilakukan dengan SOP yang ada dan tidak terjadi kecelakaan kerja,” imbuh dia. (*)

  • Bagikan