Menakar Kekuatan Taqwa Pasca Ramadan

  • Bagikan

Oleh: Ahmad Razak, Dosen Fakultas Psikologi UNM

MAKASSAR, BACAPESAN – Ramadhan kini sudah diambang batas, tinggal beberapa hari lagi kita akan berpisah. Ada perasaan haru dan sedih, didalamnya penuih dengan kenangan indah saat-saat ummat islam menjalani ibadah ramadhan. Salama sebulan penuh, umat Islam menjalani ibadah puasa, shalat tarawih, memperbanyak sedekah, memperbanyak tadarus dan tadabbur al-Qur’an serta ibadah-ibadah lainnya.

Semua itu bertujuan untuk menumbuhkan dan menguatkan nilai-nilai ketaqwaan dalam diri. Namun, pertanyaannya adalah, sejauh mana ketaqwaan itu akan bertahan setelah Ramadhan berlalu? Apakah latihan spiritual selama ramadhan mampu menangkal godaan kehidupan material yang kembali mendominasi setelah bulan suci Ramadhan berakhir?

Sudah menjadi sunnatullah bahwa realitas kehidupan manusia pasti dihadapkan pada tarik-menarik antara spiritualitas dan materialisme. Sementara itu ramadhan hadir memberi kesempatan untuk menyeimbangkan keduanya dengan mengedepankan aspek spiritual, dan pengekangan hawa nafsu yang cenderung kepada material.

Pasca-Ramadhan, sangat riskan kita kembali larut dalam urusan duniawi, sementara nilai-nilai ketaqwaan yang telah dibangun berangsur melemah. Hal ini sebenarnya sangat tergantung kualitas kekuatan taqwa yang kita bangun.

Taqwa sejatinya pula tidak hanya tumbuh dalam bulan ramadhan, tetapi seharusnya menjadi bekal dan usaha perawatan taqwa secara berkelanjutan pada masa-masa berikutnya.

Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an: Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa” (QS. Al-Baqarah: 197). Ayat ini mengingatkan bahwa ketaqwaan harus menjadi bekal utama dalam menjalani kehidupan, bukan hanya sekadar efek sesaat dari ibadah Ramadhan. Jika seseorang benar-benar mencapai ketaqwaan yang hakiki, maka ia akan mampu mempertahankannya di tengah godaan duniawi. Pada ayat yang lain Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam (QS. Ali Imran: 102). Ayat ini menggambarkan bahwa diperlukan ketaqwaan sejati (sesungguhnya) sebagai modal kebahagiaan kehidupan di dunia dan diakhirat.

Godaan materialisme pasca-Ramadhan sering kali membuat seseorang kembali pada pola hidup konsumtif dan hedonis. Dorongan untuk kembali mengejar kesuksesan duniawi, serta tuntutan lifestyle zaman sekarang resisten menjauhkan manusia dari kesederhanaan dan ketenangan spiritual yang telah dibangun selama Ramadhan. Jika tidak diwaspadai, hal ini bisa membuat seseorang terjebak dalam lingkaran kesenangan dunia yang melupakan nilai-nilai taqwa.

Menjaga ketaqwaan pasca Ramadhan, diperlukan beberapa upaya secara berkelanjutan. Salah satu caranya adalah dengan tetap menjalankan kebiasaan baik dari bulan Ramadhan, seperti: secara konsisten menjalankan shalat sunnah- qiyamullail, membaca Al-Qur’an, puasa-puasa sunnah, bersedekah dan amalan-amalan lainnya. Konsistensi dalam ibadah akan menjadi benteng yang kuat agar tidak mudah terpengaruh oleh arus materialisme yang semakin kuat.

  • Bagikan