Jadi Khatib Shalat Jumat, Amran Mahmud Urai Makna Ramadan Ini

  • Bagikan

WAJO, BACAPESAN.COM – Mengawali lanjutan safari ramadan di Kecamatan Takkalalla, Jumat (15/4/22), Bupati Wajo Amran Mahmud didaulat menjadi khatib shalat Jumat di Masjid Nurul Bayan, Desa Manyili.

Amran Mahmud yang tak lain Ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wajo, dan Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Wajo, mengajak para jamaah dan umat Muslim untuk memanfaatkan bulan bulan suci Ramadan dengan sebaik-baiknya.

Di depan para jamaah, termasuk Wakil Bupati Wajo, Amran SE, Amran Mahmud yang bergelar Doktor itu, mengurai jika Ramadan punya banyak keistimewaan dan kemuliaan di dalamnya. Sehingga merugilah bagi mereka yang tidak memanfaatkannya dalam mendulang pahala sebanyak-banyaknya.

Selama kurang lebih 20menit, Amran Mahmud yang tercatat sebagai Wakil Direktur Pasca-Sarjana Institut Agama Islam (IAI) As’adiyah Sengkang, menyebutkan jika ada lima golongan yang merugi di Ramadan.

“Pertama, adalah mereka yang berpuasa tidak dengan iman dan ihtisab. Mereka berpuasa karena riya’ atau hanya mengikuti kebiasaan,” sebutnya.

Karena itu, Amran mengingatkan, agar kita jangan berpuasa karena riya’, melainkan karena iman. Sebagaimana HR Al-Bukhari bahwa, dari Abu Hurairah RA berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda barangsiapa yang berpuasa karena Iman dan Ihtisaban maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” urainya.

Golongan yang kedua, lanjut Amran, adalah mreka yang senantiasa berakhlak buruk. Artinya, puasa mereka tidak mencegahnya dari melakukan hal-hal yang diharamkan, seperti berdusta dan sebagainya.

Golongan yang ketiga adalah mereka yang menyia-nyiakan waktu-waktu bulan mulia ini untuk tidur dan melakukan kelalaian.

“Dalam hadits riwayat Ahmad dijelaskan, bahwa dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda betapa banyak orang yg berpuasa hanya mendapatkan haus dan lapar, dan betapa banyak orang yg sholat malam hanya begadang saja. Marilah kita memanfaatkan bulan ramadhan ini, mengisinya dengan berbagai ibadah. Bukan malah memanfaatkan untuk istirahat dan memperbanyak tidur,” jelas Amran Mahmud.

Golongan keempat yang merugi, adalah mereka yang merusak puasanya dengan sengaja atau sengaja membatalkan puasanya. “Misalnya dengan melakukan jima’, makan dan minum, istimna’, atau perusak pahala puasa, seperti dusta, ghibah, namimah, hasad, mengejek, menghina, berkata kotor, tabarruj dan sebagainya. Itu semua disebabkan lemahnya iman dan kurang dekatnya kepada Allah,” katanya.

Golongan yang kelima, yakni mereka yang meninggalkan Al-Quran di Ramadhan. Tidak membaca kita suci , dan tidak mempelajari maupun merenungi maknanya.

“Tentu kita tidak ingin termasuk ke dalam golongan yang merugi, menyia-nyiakan bahkan tidak mendapatkan pahala apa-apa di bulan ramadhan. Melalui kesempatan ini, sekali saya mengajak kepada kita semua agar memanfaatkan bulan penuh berkah ini, mengisi dengan kegiatan positif serta senantiasa menjaga ukhuwah dan hubungan baik antar sesama,” ajaknya. (*)

  • Bagikan