Kebutuhan Lebaran Picu Inflasi Sulsel di Bulan April

  • Bagikan

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Sulawesi Selatan di bulan April konsisten mengalami inflasi tahunan sebesar 3,38 persen, atau inflasi sebesar 1,21 persen dari bulan sebelumnya.

Secara spasial, dari 5 kota IHK yang meliputi Bulukumba, Makassar, Palopo, Pare-pare, dan Watampone di Sulsel, inflasi bulanan tertinggi dialami oleh Makassar sebesar 1,27 persen dari bulan lalu, sedangkan inflasi bulanan terendah dialami oleh Bulukumba yaitu sebesar 0,62 persen.

Adapun kelompok penyumbang inflasi terbesar adalah Minuman sebesar 2,80 persen, disusul tembakau dengan inflasi 2,37 persen dan trasportasi dengan sumbangan inflasi sebesar 0,85 persen dibanding tahun lalu.

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulsel, Fadjar Majardi menerangkan, Inflasi Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau memiliki andil sebesar 0,84 persen.

“Inflasi utamanya dipengaruhi oleh naiknya harga minyak goreng, daging ayam ras, kue kering berminyak, tomat, dan udang basah. Di sisi lain, inflasi kelompok makanan yang lebih tinggi tertahan oleh turunnya harga cabai rawit, ikan teri, beras, bawang merah, dan pisang,” ungkapnya.

Sementara itu, tekanan inflasi Sulsel yang meningkat pada bulan April 2022 turut dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan masyarakat pada periode Ramadan dan jelang Hari Raya Idul Fitri.

“Meskipun harga beberapa komoditas pangan strategis mengalami peningkatan, secara umum tingkat inflasi di Sulsel masih dikatakan terkendali dengan baik,” sebut Fadjar.

“Kondisi ini tidak terlepas dari berbagai upaya yang dilakukan oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sulsel dalam menjaga kestabilan harga-harga komoditas, utamanya bahan pangan strategis, melalui strategi 4K (Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, Keterjangkauan Harga, dan Komunikasi Efektif) dan penguatan kerjasama perdagangan antar daerah,” sambungnya.

Adapun proses pemulihan ekonomi terus berlangsung pada tingkat nasional dan daerah, diprakirakan akan turut memberikan tekanan inflasi Sulsel.

“Risiko tekanan harga yang berasal dari imported inflation, sebagai dampak terganggunya supply chain global akibat kondisi geopolitik di wilayah Eropa, juga perlu terus diwaspadai. Menyikapi dinamika perekonomian global dan nasional, Bank Indonesia bersama dengan TPID di wilayah Sulsel akan terus bersinergi dalam rangka menjaga stabilitas harga dan pengendalian inflasi, baik pada tingkat provinsi maupun kabupaten/kota,” tutupnya. (*)

  • Bagikan