PMK Mewabah di Sulsel, 129 Ekor Kerbau dan 1 Sapi Terjangkit

  • Bagikan
ILUSTRASI

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) telah mewabah di Sulsel, sebanyak 129 ekor kerbau terjangkit virus tersebut. Kerbau itu berasal dari Tana Toraja yang berjumlah 28 ekor dan 101 ekor dari Toraja Utara.

Kepala Dinas Peternakan Sulsel, drh Nurlina Saking mengungkapkan, Pemprov Sulsel telah melakukan penutupan (lockdown) sementara jalur lalu lintas hewan ternak yang masuk ke Sulsel sebagai bentuk untuk mencegah penyebaran PMK meluas.

“Tidak ada lagi pemasukan ternak yang rentan terhadap PMK untuk masuk ke Sulsel itu kita hentikan sementara. Kemudian antar kabupaten juga ada pengetatan lalu lintas, ada yang menutup ada juga yang memperketat saja. Jadi untuk Tana Toraja dan Toraja Utara di tutup lalu lintas hewan disana tidak boleh masuk dan tidak boleh keluar dulu,” ungkapnya, Selasa (12/7/2022).

Maka dari itu, Nurlina mengatakan akan dilakukan pengobatan terhadap hewan ternak yang terjangkit PMK dan akan meningkatkan bio security dengan melakukan disinfeksi di lokasi-lokasi hewan ternak yang ditemukan sakit.

Pihaknya juga berencana segera akan melakukan vaksinasi. Dimana, Sulsel mendapat jatah vaksin PMK dari Kementerian Pertanian sebanyak 15 ribu dosis.

Nurlina menyebut penyebab masuknya virus PMK di Sulsel diduga karena masuknya hewan ternak yang berasal dari daerah yang terjangkit PMK dan juga adanya jalur-jalur pemindahan hewan ternak yang tidak melalui pelabuhan resmi.

Adapun lalu lintas hewan ternak yang masuk ke Sulsel yakni Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan Maluku.

“Jadi ternak yang masuk ke Sulsel itu banyaknya biasanya dari NTB, NTT, Maluku. Karena NTB sampai bulan Mei itu sudah terkonfirmasi satu pulaunya terkonfirmasi positif jadi kami tutuplah NTB. Tapi kan jalur-jalur perpindahan ternak bisa saja ada yang tidak melalui pelabuhan resmi. Namun kemarin memang masih ada yang masuk setelah kita pemprov Sulsel melakukan penutupan dari provinsi NTB itu masih ada yang masuk juga. Karena izinnya terlanjur ada sebelum penutupan,” ujarnya.

Lebih jauh, daerah lain yang berpotensi terjangkit virus PMK, kata Nurlina yakni Kabupaten Bone. Pasalnya, terdapat 4 ekor kerbau asal Toraja masuk ke Bone. Nurlina mengaku kerbau tersebut dikirim sebelum adanya ditemukan kasus kerbau terjangkit PMK.

“Di Bone karena ada 4 ekor dari Toraja, karena waktu itu belum terkonfirmasi ada ciri, jadi belum ketahuan ada yang positif atau ada yang sakit itu kerbaunya dibawa ke Bone, dan sesampainya di Bone itu sakit,” terangnya.

Sementara, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Toraja Utara, Lukas Pasari Datubari mengatakan pihaknya melakukan beberapa upaya untuk mencegah PMK meluas diantaranya dengan melakukan penutupan Pasar Bolu sejak hari Senin (4/7/2022) yang lalu.

“Sekarang sampai dengan hari data kami sudah 101 yang berkasus. Sudah banyak langkah yang kami lakukan. Pertama, terdeteksi pada hari Senin yang lalu, kami dari pihak pemerintah langsung mengisolasi pasar. Tidak masuk dan keluar karena munculnya kita lihat pertama di pasar makanya kita isolasi. Sekarang kami isolasi semua perbatasan,” tuturnya.

Selain itu, Lukas mengatakan pihaknya juga melakukan pemberian vitamin kepada hewan ternak yang terjangkit maupun yang tidak. Ia juga mengaku Toraja Utara mendapat 50 ribu dosis vitamin.

“Kemudian, disosialisasikan kepada masyarakat tentang penyakit ini. Kami lakukan apa yang kami bisa lakukan untuk penanganan yaitu penyuntikan vitamin. Karena kami sangat keterbatasan dana. Jadi apa yang kami bisa lakukan dilakukan saja. Kemudian, kemarin dari bantuan provinsi ada vitamin berapa botol, mungkin 50 dosis yang kami pakai,” terangnya.

Lanjut, kata Lukas, pemberian vitamin kepada hewan ternak telah dilakukan sebanyak dua kali yakni pada Selasa (5/7/2022) yang lalu dan hari ini (kemarin). Dirinya mengaku kewalahan memenuhi pemberian vitamin tersebut dikarenakan keterbatasan obat-obat dan disisi lain permintaan masyarakat yang tinggi.

“Jadi kami melakukan apa saja yang bisa kami lakukan untuk mengatasi penyebarluasan. Namun juga di tingkat masyarakat banyak yang sudah menyebar sendiri karena di luar pemantauan kami sebelum kami melakukan identifikasi di pasar, ternyata pada hari pasar sudah ada yang keluar dari pasar, itu yang menyebar di masyarakat,” tuturnya.

Lukas mengaku telah meminta penambahan obat-obatan. Namun hingga saat ini belum diturunkan, padahal obat tersebut sangat dibutuhkan untuk mencegah penyebaran meluas.

“Lebih khusus yang di pasar bolu. Karena di dalam pasar Bolu masih ada 300an ekor kerbau. Jadi itu menuntut untuk ditangani. Wajarlah kalau mereka minta ditangani secara serius. Ketersediaan obat-obatan tidak ada. Kami sudah minta tapi tidak tahu kenapa belum turun ke lapangan. Kami heran kenapa terlambat sementara penyebaran semakin meluas,” tutupnya. (*)

  • Bagikan

Exit mobile version